Komisioner Pertahanan dan Ruang Angkasa Uni Eropa, Andrius Kubilius, mengeluarkan peringatan keras terkait ketahanan industri pertahanan Barat. Dalam pernyataan terbarunya di Warsawa, Kubilius menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) saat ini tidak lagi berada dalam posisi yang mampu memenuhi lonjakan permintaan rudal pertahanan udara secara bersamaan untuk Ukraina, negara-negara Teluk, dan kebutuhan internal militer mereka sendiri.
Peringatan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang meningkat di dua front besar: serangan Rusia yang terus berlanjut di Ukraina dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah pasca-krisis Iran baru-baru ini.
Menurut data yang dipaparkan Kubilius, laju konsumsi rudal pencegat (interceptor) di Timur Tengah telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu hanya tiga hari selama ketegangan di wilayah Teluk, AS dan sekutunya telah menghabiskan lebih dari 800 rudal pencegat untuk menghalau serangan drone dan rudal balistik.
Angka tersebut sangat kontras dengan situasi di Ukraina. Kubilius mencatat bahwa jumlah rudal yang dikonsumsi di Timur Tengah dalam tiga hari tersebut melampaui total pasokan rudal pertahanan udara yang diterima Ukraina sepanjang musim dingin lalu.
"Sangat jelas bahwa setelah krisis Iran, kebutuhan bagi kami di Eropa untuk meningkatkan produksi rudal pertahanan udara dan anti-balistik menjadi jauh lebih mendesak," ujar Kubilius dalam konferensi pers bersama Menteri Pertahanan Polandia, Władysław Kosiniak-Kamysz. "Amerika tidak akan mampu menyediakan cukup rudal untuk semua pihak sekaligus."
Saat ini, Ukraina dilaporkan membutuhkan setidaknya 700 rudal sistem Patriot (PAC-2 dan PAC-3) untuk mengamankan wilayahnya selama satu musim saja. Namun, kapasitas produksi perusahaan pertahanan AS seperti Lockheed Martin diperkirakan hanya mampu menghasilkan sekitar 600 hingga 650 unit per tahun.
Kesenjangan antara kapasitas pabrik dan kebutuhan medan perang menciptakan dilema strategis. Di satu sisi, negara-negara Teluk membutuhkan perlindungan segera terhadap ancaman regional, sementara di sisi lain, infrastruktur sipil Ukraina terus menjadi sasaran empuk rudal jelajah Rusia.
Menanggapi keterbatasan AS, Uni Eropa kini mendorong agenda "Kemandirian Strategis". Kubilius mendesak negara-negara anggota UE untuk meningkatkan kapasitas produksi industri pertahanan mereka sendiri hingga 400 persen guna menutup celah pasokan.
Salah satu langkah konkret yang diusulkan adalah pemanfaatan program Security Action for Europe (SAFE), yang bertujuan memberikan pinjaman dan dukungan dana bagi negara-negara anggota untuk mempercepat manufaktur persenjataan. Polandia dipandang sebagai salah satu pusat strategis yang diharapkan menjadi tulang punggung produksi rudal di masa depan.
"Eropa harus berhenti menjadi pengamat dan mulai menjadi penyedia keamanan yang mandiri," tambah Kubilius. Ia memperingatkan bahwa tanpa investasi besar-besaran dan cepat, kesiapan pertahanan Eropa akan tetap berada pada level kritis, terutama jika dukungan konvensional AS terus terbagi ke wilayah Indo-Pasifik dan Timur Tengah.
Situasi ini menjadi sinyal kuat bagi komunitas internasional bahwa era ketergantungan penuh pada industri militer Amerika Serikat mulai menemui batasnya, memaksa sekutu-sekutu Barat untuk memikirkan ulang arsitektur pertahanan global mereka.
