Kegagalan Strategi Trump: Mojtaba Khamenei Resmi Naik Tahta

mojtaba khamenei dan donald trump

Terpilihnya Mojtaba dipandang sebagai antiklimaks dari upaya panjang Donald Trump untuk melemahkan pengaruh garis keras di Teheran. Sebelumnya, Trump secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap skenario kepemimpinan Mojtaba. Namun, rentetan peristiwa berdarah belakangan ini justru mempercepat naiknya putra Ali Khamenei tersebut ke puncak kekuasaan.

Barbara Slavin, analis senior dari Stimson Center, memberikan kritik pedas terhadap dinamika ini. Menurutnya, keputusan Iran untuk menunjuk Mojtaba membuat kampanye militer dan tekanan ekonomi yang dilancarkan Trump bersama Israel terlihat semakin tidak masuk akal.

"Ini adalah semacam penghinaan politik bagi Trump," ujar Slavin. "Strategi yang dimaksudkan untuk membendung pengaruh keluarga Khamenei justru berakhir dengan pengukuhan dinasti tersebut di pusat kekuasaan Iran."

Kenaikan Mojtaba terjadi di tengah suasana duka dan kemarahan. Serangan Israel sepekan lalu yang menewaskan Ali Khamenei juga dilaporkan merenggut nyawa anggota keluarga dekat lainnya. Hal ini menciptakan dimensi personal yang sangat berbahaya dalam konflik regional ini.

Analis meyakini bahwa Mojtaba akan memimpin dengan sentimen balas dendam. Jika sebelumnya Iran cenderung menggunakan proksi untuk menyerang lawan, kepemimpinan Mojtaba diprediksi akan jauh lebih konfrontatif. Rasa marah akibat kehilangan keluarga dalam serangan Israel diyakini akan menjadi bahan bakar utama dalam menentukan kebijakan militer Iran ke depan.

Meski banyak dikritik oleh pihak Barat, penunjukan Mojtaba dinilai sebagai langkah yang sangat logis bagi stabilitas internal rezim Iran. Selama bertahun-tahun, Mojtaba telah bekerja di balik layar, memerintah bersama ayahnya, dan memahami setiap seluk-beluk struktur kekuasaan Republik Islam—mulai dari birokrasi hingga kendali atas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Bagaimanapun, bagi masyarakat sipil Iran dan komunitas internasional, transisi ini tidak memberikan harapan baru bagi perubahan domestik. Ada konsensus di antara para pengamat bahwa di bawah kepemimpinan Mojtaba:

  • Demokrasi akan tetap stagnan: Tidak ada tanda-tanda pelonggaran kontrol politik.
  • Hak Asasi Manusia: Pengetatan terhadap oposisi dan aktivis diperkirakan akan terus berlanjut.

  • Kebijakan Luar Negeri: Iran kemungkinan besar akan semakin menjauh dari meja negosiasi nuklir.

Dengan naiknya Mojtaba Khamenei, dunia kini menghadapi Iran yang lebih terluka, lebih berpengalaman secara internal, dan jauh lebih memusuhi poros Washington-Tel Aviv. Upaya Trump untuk "mengatur ulang" Timur Tengah melalui tekanan maksimum tampaknya justru melahirkan lawan yang lebih radikal dan memiliki legitimasi historis di mata loyalis rezim.