PM Spanyol Pedro Sánchez Tegaskan 'No a la Guerra' Terhadap Eskalasi di Iran

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, baru saja memicu gelombang diskusi diplomatik internasional setelah menyampaikan pidato emosional di Istana Moncloa, Rabu (4/3/2026). Dalam pernyataan resminya, Sánchez secara eksplisit menarik garis paralel antara situasi ketegangan militer saat ini di Iran dengan invasi Irak tahun 2003, sebuah memori kelam yang disebutnya sebagai "luka lama yang tidak boleh terulang."

Sánchez mengecam keras keterlibatan kekuatan Barat dalam eskalasi militer di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Dengan nada tegas, ia menghidupkan kembali slogan bersejarah sayap kiri Spanyol, "No a la guerra" (Tidak pada perang), yang dahulu menjadi pemersatu jutaan rakyat Spanyol saat menentang invasi Irak dua dekade silam.

Dalam pidatonya, Sánchez mengingatkan dunia tentang konsekuensi bencana dari keputusan "beberapa pemimpin yang tidak bertanggung jawab" pada tahun 2003. Ia merujuk pada "Trio Azores"—George W. Bush, Tony Blair, dan mantan PM Spanyol Jose Maria Aznar—yang menyeret dunia ke dalam perang ilegal berdasarkan klaim senjata pemusnah massal yang tidak terbukti.

"Kita tidak boleh membiarkan diri kita diseret kembali ke dalam ilusi bahwa bom bisa menyelesaikan masalah dunia," ujar Sánchez. Ia menambahkan bahwa invasi Irak 2003 tidak hanya gagal membawa stabilitas, tetapi justru memicu gelombang terorisme jihadis, krisis migrasi besar-besaran di Mediterania, dan ketidakpastian energi yang membebani rakyat kecil hingga hari ini.

Sikap keras Sánchez muncul di tengah ketegangan diplomatik dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Spanyol secara resmi menolak memberikan izin bagi militer AS untuk menggunakan pangkalan udara gabungan di Rota dan Morón sebagai titik berangkat serangan ke Iran. Keputusan ini memicu ancaman embargo perdagangan dari Washington.

Namun, Sánchez menegaskan bahwa Spanyol tidak akan menjadi "antek" atau "komplotan" dalam tindakan yang dianggapnya melanggar hukum internasional.

"Pemerintah Spanyol ada untuk memperbaiki kehidupan masyarakat, memberikan solusi, bukan membuat hidup mereka lebih buruk dengan krisis perang yang bisa dihindari," tegasnya.

Analisis politik di Madrid mencatat bahwa langkah Sánchez ini bukan sekadar manuver diplomatik, melainkan upaya untuk menyatukan kembali sentimen anti-perang di Eropa. Sánchez berargumen bahwa dunia saat ini sedang bermain "rolet Rusia" dengan nasib jutaan nyawa. Ia mendesak gencatan senjata segera dan mengedepankan jalur diplomasi untuk menangani rezim di Teheran, tanpa harus menghancurkan infrastruktur sipil dan keamanan global.

Pernyataan ini mendapat dukungan luas di dalam negeri Spanyol, di mana trauma keterlibatan Spanyol dalam Perang Irak masih terasa segar, terutama mengingat serangan bom Madrid 2004 yang merupakan dampak langsung dari kebijakan perang masa lalu tersebut.

Melalui pidato ini, Pedro Sánchez mengirimkan pesan jelas kepada komunitas internasional: Spanyol memilih berdiri di sisi hukum internasional dan perdamaian, menolak untuk mengulangi kesalahan tragis yang pernah merobek stabilitas global dua puluh tiga tahun yang lalu.