Majelis Ahli Iran (Assembly of Experts), lembaga klerikal yang bertanggung jawab memilih otoritas tertinggi negara, secara resmi mengumumkan bahwa mereka telah mencapai keputusan bulat mengenai sosok Pemimpin Tertinggi yang baru. Pengumuman ini menandai titik balik bersejarah bagi Republik Islam tersebut setelah masa ketidakpastian politik yang dipicu oleh wafatnya Ayatollah Ali Khamenei akhir bulan lalu.
Dalam pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah pada hari Minggu (8/3/2026), anggota Majelis Ahli mengonfirmasi bahwa proses pemungutan suara telah selesai. Ayatollah Mohsen Heydari, salah satu anggota majelis dari Provinsi Khuzestan, menyatakan bahwa kandidat yang "paling cakap" telah ditentukan berdasarkan suara mayoritas mutlak.
"Keputusan telah diambil. Sosok yang akan memikul amanah besar ini telah dipilih, dan sekretariat Majelis akan segera mengumumkan namanya kepada umat," ujar Heydari dalam pernyataan resminya.
Kabar mengenai terpilihnya pemimpin baru ini muncul di tengah situasi regional yang sangat panas. Iran saat ini tengah menghadapi tekanan eksternal yang masif serta eskalasi konflik militer. Penunjukan cepat ini dinilai sebagai upaya Teheran untuk menunjukkan stabilitas dan mencegah kekosongan kekuasaan yang dapat dimanfaatkan oleh pihak luar.
Selama masa transisi sejak kematian Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, urusan negara dikelola oleh dewan kepemimpinan sementara yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Kehakiman, dan anggota fakih dari Dewan Garda. Sesuai konstitusi, Majelis Ahli memiliki waktu maksimal tiga bulan untuk menentukan penerus, namun tekanan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan mempercepat proses ini guna menjamin kontinuitas komando militer dan politik.
Meski nama resmi belum dirilis, spekulasi publik dan analisis internasional mengerucut pada beberapa tokoh kuat. Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang Ali Khamenei, disebut-sebut sebagai kandidat terdepan. Meski sempat muncul perdebatan mengenai "kepemimpinan turun-temurun", pengaruh kuat Mojtaba di dalam struktur keamanan dan intelijen menjadikannya sosok yang dianggap mampu menjaga stabilitas rezim.
Selain Mojtaba, nama lain yang muncul dalam bursa calon adalah Alireza Arafi, seorang ulama senior yang dikenal memiliki hubungan baik dengan faksi-faksi konservatif maupun pragmatis di dalam pemerintahan.
Dunia internasional memantau dengan cermat transisi ini. Amerika Serikat dan Israel dilaporkan mengikuti perkembangan dari dekat, mengingat Pemimpin Tertinggi Iran memiliki wewenang absolut atas program nuklir, kebijakan luar negeri, dan komando seluruh angkatan bersenjata.
Pengamat politik Timur Tengah menilai bahwa siapa pun yang terpilih akan menghadapi tantangan domestik yang berat, termasuk memulihkan ekonomi yang terdampak sanksi serta menavigasi hubungan diplomatik yang semakin kompleks di panggung global.
Pemerintah Iran telah menetapkan masa berkabung nasional dan meminta masyarakat untuk tetap tenang serta waspada terhadap informasi yang tidak resmi hingga pengumuman final disiarkan melalui televisi nasional dalam waktu dekat.
