Ketegangan dengan Amerika Serikat kian memuncak setelah kapal fregat andalan Angkatan Laut Iran, IRIS Dena, dilaporkan tenggelam di perairan internasional lepas pantai Sri Lanka pada Rabu, 4 Maret 2026. Kapal perang tersebut hancur setelah dihantam torpedo yang diluncurkan oleh kapal selam bertenaga nuklir milik Amerika Serikat.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengonfirmasi serangan tersebut dalam konferensi pers di Pentagon. Ia menyebutkan bahwa kapal selam serbu kelas Los Angeles, USS Charlotte, melepaskan torpedo Mark 48 yang langsung membelah lambung kapal Iran tersebut.
"Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang merasa aman di perairan internasional. Sebaliknya, ia tenggelam oleh torpedo kematian yang sunyi," ujar Hegseth. Insiden ini menandai pertama kalinya kapal selam AS menenggelamkan kapal musuh dengan torpedo sejak Perang Dunia II.
IRIS Dena sedang dalam perjalanan pulang menuju Iran setelah berpartisipasi dalam latihan angkatan laut multilateral MILAN 2026 di Visakhapatnam, India. Kapal tersebut berada sekitar 19 mil laut (35 kilometer) di selatan kota Galle, Sri Lanka, ketika serangan terjadi pada dini hari.
Angkatan Laut Sri Lanka melaporkan menerima sinyal darurat (distress call) dari IRIS Dena pada pukul 05.08 waktu setempat. Namun, saat tim penyelamat tiba di lokasi satu jam kemudian, fregat canggih tersebut sudah hilang dari permukaan laut, menyisakan tumpahan minyak dan puing-puing yang terapung.
Dari total 180 kru yang berada di atas kapal, Angkatan Laut Sri Lanka berhasil menyelamatkan 32 pelaut yang terapung di air. Hingga berita ini diturunkan, sebanyak 87 jenazah telah dievakuasi ke Rumah Sakit Nasional Galle, sementara puluhan lainnya dinyatakan hilang.
Pihak berwenang Sri Lanka menyatakan bahwa operasi pencarian masih terus dilakukan di zona ekonomi eksklusif mereka, meski harapan untuk menemukan penyintas tambahan kian menipis.
Teheran bereaksi keras atas insiden ini. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengutuk serangan tersebut sebagai "kekejaman di laut" dan "tindakan terorisme pengecut." Iran menegaskan bahwa kapal tersebut tidak bersenjata lengkap karena baru saja menyelesaikan latihan diplomatik dan sedang melintasi jalur pelayaran sipil yang damai.
Disisi lain, beberapa pengamat hukum internasional mempertanyakan legalitas serangan tersebut. Karena IRIS Dena tidak sedang dalam posisi melakukan serangan aktif, tindakan AS dianggap oleh sebagian pihak sebagai pelanggaran hukum laut internasional (UNCLOS) dan Konvensi Jenewa, terutama terkait kewajiban kapal selam untuk membantu korban setelah serangan.
Tenggelamnya IRIS Dena membawa kekhawatiran besar bagi stabilitas keamanan di Samudra Hindia. India, sebagai tuan rumah latihan militer yang baru saja diikuti Iran, menyatakan keprihatinan mendalam atas terjadinya kontak senjata di wilayah "halaman belakang" mereka.
Insiden ini diprediksi akan memicu eskalasi militer yang lebih luas antara Washington dan Teheran, yang kini melibatkan perairan di luar Timur Tengah.
