Laporan intelijen dan citra satelit Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengkonfirmasi kehancuran komponen vital sistem pertahanan udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) milik Amerika Serikat di Yordania. Serangan yang dilancarkan oleh militer Iran ini menargetkan Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, mengakibatkan kerugian materiil yang diperkirakan mencapai Rp5 triliun hingga Rp8 triliun.
Berdasarkan data citra satelit terbaru yang dirilis oleh Airbus dan dianalisis oleh pakar militer, serangan tersebut terjadi pada awal Maret 2026. Fokus utama kerusakan terletak pada stasiun radar AN/TPY-2, yang merupakan "mata" dari sistem THAAD. Radar canggih ini berfungsi untuk mendeteksi dan melacak rudal balistik pada jarak yang sangat jauh.
Dalam foto-foto yang beredar, terlihat unit radar yang dipasang pada trailer tersebut hangus menghitam dan hancur total. Ditemukan dua kawah besar sedalam empat meter di lokasi kejadian, yang menunjukkan bahwa Iran menggunakan beberapa proyektil presisi secara bersamaan untuk memastikan sistem pertahanan tersebut lumpuh sepenuhnya.
Sistem THAAD dikenal sebagai salah satu perisai rudal paling canggih di dunia. Satu baterai THAAD lengkap memiliki nilai sekitar 1 miliar dolar AS (sekitar Rp15 triliun), dengan unit radar sendiri menyumbang sepertiga dari total biaya tersebut. Kehancuran radar ini tidak hanya berarti kerugian finansial yang masif, tetapi juga menciptakan lubang besar dalam jaringan pengawasan udara AS di kawasan Teluk.
Analis militer menyebutkan bahwa lumpuhnya radar AN/TPY-2 di Yordania akan memaksa militer AS untuk lebih mengandalkan sistem Patriot. Namun, sistem Patriot memiliki jangkauan yang lebih pendek dan saat ini dilaporkan sedang mengalami krisis stok rudal pencegat akibat intensitas konflik yang terus meningkat.
Serangan ini merupakan bagian dari operasi balasan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan tersebut. Selain di Yordania, laporan serupa mengenai kerusakan infrastruktur radar juga muncul dari Qatar dan Uni Emirat Arab, menunjukkan upaya sistematis Teheran untuk membongkar sensor-sensor pertahanan udara Barat.
"Ini menandai pergeseran taktik yang signifikan. Iran tidak lagi hanya menargetkan pangkalan secara umum, tetapi secara spesifik mengincar aset-aset bernilai tinggi yang sulit digantikan dalam waktu singkat," ujar seorang pengamat pertahanan internasional.
Hingga saat ini, Pentagon belum memberikan pernyataan rinci mengenai jumlah korban jiwa dalam insiden tersebut, namun mereka mengonfirmasi bahwa operabilitas pertahanan udara di Yordania telah sangat terganggu. Sementara itu, pasar energi global bereaksi negatif terhadap berita ini, dengan harga minyak mentah yang merangkak naik akibat kekhawatiran akan perang terbuka yang lebih luas di jalur perdagangan strategis.
