Pemerintah Israel melalui unit sensor militer (Military Censor) secara resmi memberlakukan pembatasan ketat terhadap seluruh kanal media lokal dan internasional terkait peliputan dampak serangan rudal balistik Iran. Kebijakan ini diambil guna menjaga "keamanan nasional" dan mencegah pemanfaatan informasi oleh pihak lawan untuk mengevaluasi efektivitas serangan mereka.
Sejak gelombang balasan serangan rudal balistik yang diluncurkan Teheran, otoritas pertahanan Israel telah menginstruksikan media untuk tidak menyiarkan secara detail lokasi jatuhnya rudal, tingkat kerusakan infrastruktur, hingga jumlah pasti korban di fasilitas militer.
Berdasarkan laporan lapangan, sensor ini mencakup:
- Larangan publikasi foto dan video real-time dari lokasi ledakan.
- Pembatasan detail kerusakan pada pangkalan udara strategis seperti Nevatim dan Tel Nof.
- Verifikasi ketat terhadap laporan jumlah korban luka maupun jiwa sebelum dirilis ke publik.
Langkah ini bukanlah hal baru dalam protokol pertahanan Israel, namun pengamat menilai intensitas sensor kali ini jauh lebih tinggi dibanding konflik-konflik sebelumnya.
Meskipun sensor diberlakukan, beberapa laporan dari jurnalis asing dan citra satelit komersial mulai menunjukkan adanya kerusakan struktural yang signifikan di beberapa titik di Israel tengah dan selatan. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Israel sejauh ini hanya mengonfirmasi jumlah korban yang jauh lebih rendah dibandingkan klaim yang beredar di media sosial.
"Kebijakan ini bertujuan untuk mencegah Iran melakukan Battle Damage Assessment (penilaian kerusakan pertempuran) yang akurat. Jika musuh mengetahui di mana rudal mereka jatuh, mereka dapat mengalibrasi serangan berikutnya dengan lebih presisi," ujar seorang analis pertahanan di Tel Aviv.
Namun, kebijakan ini memicu kritik terkait transparansi. Publik di Israel mulai mempertanyakan keakuratan data pemerintah setelah beberapa rekaman amatir yang luput dari sensor menunjukkan kobaran api besar di area-area yang diklaim "terintersepsi sepenuhnya" oleh sistem pertahanan Iron Dome dan Arrow.
Pakar perang informasi menyebutkan bahwa penutupan akses informasi ini merupakan bagian dari "perang urat saraf". Dengan menyembunyikan dampak kerusakan, Israel berusaha menjaga moral warga sipil sekaligus mengirimkan pesan kepada dunia bahwa sistem pertahanan udara mereka tetap tidak tertembus.
Sebaliknya, media pemerintah Iran mengklaim bahwa rudal-rudal mereka berhasil menghancurkan target-target vital dan menuduh Israel melakukan "kebohongan sistematis" untuk menutupi kelemahan militernya.
Hingga Selasa (10/3/2026), suasana di kota-kota besar seperti Tel Aviv dan Haifa tetap dalam status siaga tinggi. Instruksi dari Komando Front Dalam Negeri (Home Front Command) tetap mewajibkan warga untuk berada di dekat ruang perlindungan (shelter).
Sementara itu, komunitas internasional terus mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri guna mencegah perang skala penuh yang lebih luas di Timur Tengah, meskipun akses terhadap fakta di lapangan kini semakin terbatas oleh dinding sensor yang tebal.
