Mantan Perdana Menteri Qatar, Sheikh Hamad bin Jassim Al Thani, melontarkan kritik tajam terhadap dinamika keamanan di kawasan Teluk. Dalam pernyataan terbaru yang menggetarkan peta politik regional, tokoh senior ini memperingatkan bahwa Amerika Serikat tengah berupaya mendorong negara-negara Arab ke dalam jurang konflik bersenjata dengan Iran.
Menurut Hamad bin Jassim, ketegangan yang meningkat pasca-serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan bukan sekadar urusan pertahanan, melainkan bagian dari strategi ekonomi dan politik Washington.
Hamad bin Jassim secara terang-terangan menuduh Amerika Serikat memanfaatkan ketakutan regional untuk memicu perang sesama Muslim. Ia menilai agenda utama di balik provokasi ini adalah komodifikasi konflik.
"Amerika Serikat mendorong negara-negara Teluk untuk berperang dengan Iran hanya untuk menjual senjata kepada kita," tegasnya. Beliau menambahkan keprihatinan mendalam mengenai fenomena di mana umat Muslim berakhir saling menghancurkan, sementara industri militer asing memetik keuntungan finansial yang besar.
Lebih jauh lagi, ia menyoroti standar ganda Barat. Di satu sisi, negara-negara Arab didorong untuk berkonfrontasi dengan tetangga mereka, namun di sisi lain, dukungan tanpa syarat terus mengalir untuk proyek "Israel Raya" (Greater Israel), yang dinilai mengancam kedaulatan jangka panjang bangsa Arab.
Dalam sebuah momen refleksi diri yang jarang terjadi di level pejabat tinggi, mantan PM Qatar ini mengakui adanya kesalahan strategis dari negara-negara Teluk sendiri. Ia menyebut kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat di tanah Arab sebagai bumerang yang kini digunakan untuk mengancam Iran.
"Ini juga kesalahan kita; kita menjadi tuan rumah pangkalan militer AS yang mereka gunakan untuk melawan Iran. Kami tidak akan pernah memerangi saudara-saudara Muslim kami di Iran, insya Allah," ujarnya.
Menghadapi tekanan eksternal, Hamad bin Jassim menyerukan perubahan paradigma total: Persatuan Arab-Iran. Ia mendesak para pemimpin regional, termasuk di Uni Emirat Arab, Yordania, dan Mesir, untuk berhenti mencari perlindungan dari tokoh-tokoh politik Barat seperti Donald Trump, yang ia gambarkan secara eksplisit sebagai pihak yang tidak layak dijadikan sandaran keamanan.
Poin-poin utama dalam seruan tersebut meliputi:
- Pengusiran Pengaruh Asing: Membersihkan kawasan dari kekuatan yang dianggap membawa kerusakan dan adu domba.
- Solidaritas Palestina: Menuntut pembalasan atas kejahatan kemanusiaan yang menimpa warga Palestina.
- Kedaulatan Spiritual: Mengingatkan para pemimpin Arab agar kembali bersandar pada kekuatan Tuhan (Allah) daripada bergantung pada aliansi militer Barat yang rapuh.
Hamad bin Jassim menutup pesannya dengan urgensi waktu, mempertanyakan kapan lagi persatuan ini akan terwujud jika bukan sekarang. Pesan ini menjadi alarm keras bagi stabilitas regional, menantang status quo ketergantungan militer Arab terhadap Barat dan menawarkan visi Timur Tengah yang mandiri serta bersatu.
