Teheran Ancam Serang Reaktor Nuklir Dimona Jika AS Paksakan Perubahan Rezim

pusat penelitian nuklir Shimon Peres Negev, Dimona

Pemimpin Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan peringatan keras kepada Israel dan Amerika Serikat, bahwa mereka tidak akan ragu untuk menargetkan pusat penelitian nuklir Shimon Peres Negev yang terletak di Dimona, Israel, jika Washington dan sekutunya terus mengupayakan agenda "perubahan rezim" di Teheran.

Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi militer yang signifikan di kawasan tersebut sejak awal Maret 2026. Melalui kantor berita semi-pemerintah, ISNA, pejabat senior militer Iran menegaskan bahwa fasilitas nuklir Dimona telah masuk dalam daftar target utama serangan balasan jika kedaulatan politik Iran terancam oleh intervensi asing.

Ancaman terhadap reaktor nuklir Dimona ini bukanlah gertakan semata dalam konteks konflik saat ini. Sejak akhir Februari, serangkaian serangan udara gabungan AS-Israel telah menargetkan infrastruktur militer dan fasilitas rudal balistik di wilayah Iran. Operasi tersebut, yang diklaim oleh Washington bertujuan untuk melumpuhkan kapabilitas nuklir Iran, telah memicu gelombang serangan balasan yang disebut Iran sebagai "Operasi Janji Setia 4".

Dalam pernyataan resminya, pihak Iran menuduh Amerika Serikat menggunakan kekuatan militer untuk menggulingkan kepemimpinan sah di Teheran. "Jika musuh melakukan kesalahan strategis dengan mencoba mengubah tatanan politik kami melalui agresi militer, maka tidak ada tempat di wilayah pendudukan (Israel) yang akan aman, termasuk fasilitas nuklir mereka," ujar seorang juru bicara militer Iran.

Fasilitas nuklir Dimona di Gurun Negev selama ini dianggap sebagai jantung dari program senjata nuklir Israel yang tidak pernah diakui secara resmi (nuclear ambiguity). Bagi Iran, menargetkan Dimona adalah bentuk pencegahan tingkat tertinggi (high-level deterrence) untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menciptakan bencana bagi lawan jika dipaksa ke sudut yang sempit.

Analis geopolitik memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir dapat memicu bencana lingkungan dan kemanusiaan yang melampaui batas-batas negara, termasuk risiko radiasi yang bisa menyebar ke wilayah tetangga seperti Yordania dan Mesir.

Pihak Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait ancaman spesifik terhadap Dimona, namun Presiden AS menekankan bahwa kampanye militer saat ini bertujuan untuk memastikan stabilitas kawasan. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kembali komitmen negaranya untuk mempertahankan diri dari segala bentuk ancaman eksistensial.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah menyatakan keprihatinan mendalam atas retorika yang menargetkan fasilitas nuklir. Direktur Jenderal IAEA menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri, mengingatkan bahwa fasilitas nuklir tidak boleh dijadikan sasaran militer dalam kondisi apa pun sesuai dengan hukum internasional.