Pemerintah China secara resmi menyatakan sikap kerasnya terhadap eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di wilayah Iran. Dalam pernyataan terbaru yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri di Beijing, China mendesak penghentian segera aksi militer dan menekankan pentingnya menghormati kedaulatan serta integritas wilayah Republik Islam Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers menyatakan bahwa penggunaan kekuatan militer bukan merupakan solusi bagi kompleksitas permasalahan di Timur Tengah. Pernyataan ini muncul menyusul rangkaian serangan udara yang menargetkan berbagai titik strategis di Iran pada akhir Februari dan awal Maret 2026.
China memandang intervensi asing yang mengatasnamakan stabilitas kawasan sebagai tindakan yang justru memperburuk situasi global. "Kedaulatan, keamanan, dan martabat nasional Iran harus dihormati sepenuhnya. Kami menentang segala bentuk intervensi eksternal yang melanggar hukum internasional dan Piagam PBB," tegas Mao Ning.
Beijing juga mengutuk serangan yang menyebabkan kerusakan pada infrastruktur sipil dan situs budaya Iran. Menurut otoritas China, tindakan militer sepihak hanya akan memicu siklus kekerasan yang lebih luas dan mengancam jalur energi internasional, terutama di Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global.
Selain menolak intervensi militer, China secara konsisten mengkritik kebijakan sanksi sepihak (unilateral sanctions) yang dijatuhkan oleh Washington. Sebagai mitra dagang terbesar Iran, China menegaskan akan terus menjalin hubungan ekonomi yang normal dan stabil dengan Teheran, meskipun berada di bawah tekanan sanksi Barat.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dilaporkan telah melakukan komunikasi intensif dengan mitranya dari Iran dan negara-negara tetangga untuk mengupayakan mediasi. China menawarkan diri sebagai penyeimbang diplomatik, mendorong agar semua pihak kembali ke meja perundingan terkait kesepakatan nuklir yang sempat terhenti.
Sikap China ini mencerminkan strategi besar Beijing di bawah inisiatif Keamanan Global (Global Security Initiative). Di saat Amerika Serikat memperkuat kehadiran militernya di kawasan tersebut, China memilih pendekatan "diplomasi pembangunan" dan menjaga stabilitas regional demi mengamankan kepentingan ekonominya.
Analis politik internasional menilai bahwa dukungan vokal China terhadap Iran bertujuan untuk mencegah hegemoni tunggal di Timur Tengah. Beijing khawatir jika konflik meluas, dampaknya akan melumpuhkan rantai pasok energi yang krusial bagi pertumbuhan ekonomi domestik mereka yang kini diproyeksikan berada pada angka 4,5%.
Hingga saat ini, China tetap pada posisi bahwa stabilitas hanya bisa dicapai melalui dialog yang inklusif tanpa paksaan militer. China memperingatkan bahwa dunia tidak sanggup menghadapi krisis besar lainnya di Timur Tengah dan meminta komunitas internasional untuk bersama-sama mendesak AS agar menahan diri.
