Pemerintah Rusia melalui Kementerian Luar Negerinya mengeluarkan pernyataan tajam yang menuduh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya tengah menjalankan strategi sistematis untuk memecah belah persatuan umat Islam. Tuduhan ini muncul tepat saat masyarakat Muslim di seluruh dunia sedang menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, dalam keterangan persnya pada Kamis (5/3/2026), menyatakan bahwa eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan serangan militer terhadap Iran bukan sekadar masalah keamanan regional. Menurut Moskow, momentum serangan tersebut dipilih secara sengaja untuk merusak suasana damai dan solidaritas yang biasanya menguat di kalangan negara-negara Muslim selama Ramadhan.
Pihak Rusia berpendapat bahwa tindakan militer dan manuver diplomatik AS di kawasan Teluk bertujuan untuk memicu reaksi keras yang dapat membenturkan kepentingan negara-negara Arab dengan Iran. Zakharova menyebut strategi ini sebagai upaya "pecah belah" (divide and conquer) klasik yang telah dimodifikasi untuk era modern.
"Kami melihat adanya upaya terencana dari Washington untuk menanamkan benih perselisihan di jantung dunia Islam. Sangat disayangkan bahwa agresi dan provokasi ini dilakukan di saat jutaan umat Islam sedang mencari kedamaian dan spiritualitas," ujar Zakharova dalam pernyataan yang dikutip oleh media lokal.
Rusia juga menyoroti bahwa dampak dari ketegangan ini tidak hanya bersifat politik, tetapi juga kemanusiaan. Serangan yang mengenai fasilitas sipil di beberapa wilayah dilaporkan telah mengganggu distribusi bantuan dan pelaksanaan ibadah komunal, yang memperburuk penderitaan warga di zona konflik.
Lebih lanjut, Moskow menilai bahwa kegaduhan yang diciptakan oleh AS dan sekutunya di kawasan tersebut berfungsi sebagai "tabir asap" untuk mengalihkan perhatian dunia dari situasi krisis di Palestina. Dengan menciptakan titik panas baru, perhatian internasional terhadap isu-isu mendasar di Gaza dan Tepi Barat dianggap perlahan-lahan terkikis.
Pemerintah Rusia mengklaim memiliki bukti bahwa komunikasi diplomatik AS di balik layar mencoba menekan beberapa negara Muslim untuk mengambil sikap bermusuhan satu sama lain. "Tujuannya jelas: mencegah terbentuknya front persatuan yang dapat menantang hegemoni Barat di kawasan tersebut," tambah pernyataan itu.
Sebagai tanggapan atas situasi ini, Rusia menyerukan kepada semua pihak, terutama negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), untuk tidak terpancing oleh narasi yang dibangun oleh pihak luar. Moskow menekankan pentingnya dialog antar-saudara untuk menyelesaikan perselisihan internal tanpa intervensi asing.
"Ramadhan seharusnya menjadi bulan konsolidasi, bukan konfrontasi. Kami mendesak masyarakat internasional untuk melihat lebih jeli siapa yang sebenarnya diuntungkan dari perpecahan di dunia Islam saat ini," tutup pernyataan resmi tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan spesifik dari Moskow ini, meskipun Washington sebelumnya selalu menegaskan bahwa tindakan militer mereka adalah murni untuk kepentingan pertahanan dan stabilitas global.
