Senin (9/3/2026) Iran meluncurkan serangkaian serangan udara yang menghantam sejumlah instalasi energi vital di negara-negara Teluk. Salah satu target utama dalam serangan ini adalah kilang minyak Al Ma'ameer di Bahrain yang memicu kebakaran hebat dan gangguan pada rantai pasok energi global.
Perusahaan energi milik negara Bahrain, Bahrain Petroleum Company (Bapco), mengonfirmasi bahwa serangan rudal dan drone tersebut mengenai unit pengolahan di kompleks kilang Al Ma'ameer. Meskipun otoritas pertahanan sipil Bahrain melaporkan bahwa api berhasil dikendalikan dalam waktu beberapa jam, kerusakan infrastruktur yang signifikan memaksa Bapco untuk mengumumkan status "force majeure".
Dalam pernyataan resminya, Bapco menyatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena situasi di luar kendali perusahaan yang menghambat pemenuhan kontrak ekspor kepada pelanggan internasional. "Kami menghadapi dampak langsung dari konflik regional yang sedang berlangsung. Fokus utama saat ini adalah memastikan keamanan personel dan memulihkan kapasitas operasional secara bertahap," tulis pernyataan tersebut.
Bahrain bukanlah satu-satunya target. Laporan dari kawasan menunjukkan bahwa Iran juga mengarahkan proyektilnya ke instalasi energi di Qatar dan Kuwait. Hal ini memicu reaksi berantai di mana produsen energi di kedua negara tersebut turut mengaktifkan klausul keadaan darurat serupa.
Ketegangan ini merupakan buntut dari eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari lalu. Teheran sebelumnya telah memberikan peringatan keras bahwa negara-negara tetangga yang mengizinkan wilayah atau pangkalan militernya digunakan untuk menyerang Iran akan menghadapi konsekuensi serupa.
Pasar keuangan global bereaksi spontan terhadap insiden ini. Harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak ke level tertinggi sejak awal 2022, melampaui angka 100 dolar AS per barel. Investor khawatir bahwa blokade atau gangguan berkelanjutan di Selat Hormuz akan memutus pasokan energi dunia. Di Asia, bursa saham utama memerah seiring kekhawatiran akan inflasi energi yang tak terkendali.
Di sisi kemanusiaan, selain kerusakan fasilitas, serangan drone Iran di wilayah pemukiman seperti pulau Sitra dilaporkan melukai sedikitnya 32 warga sipil, termasuk anak-anak. Otoritas medis di Manama terus bersiaga menghadapi kemungkinan serangan susulan.
Sejumlah negara, termasuk Indonesia, telah menyerukan agar semua pihak menahan diri guna mencegah perang terbuka yang lebih luas. Namun, dengan posisi masing-masing pihak yang semakin mengeras, stabilitas keamanan di jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia ini kini berada dalam ketidakpastian besar.
Dunia kini menanti langkah diplomatik tingkat tinggi dari Dewan Keamanan PBB untuk meredam api konflik yang tidak hanya membakar kilang-kilang di Teluk, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi global.
