Eskalasi ketegangan antara Israel dan Republik Islam Iran kini memasuki babak baru yang lebih kompleks. Laporan intelijen terbaru menunjukkan bahwa Tel Aviv telah secara signifikan meningkatkan dukungan strategis, logistik, dan finansial kepada kelompok-kelompok milisi Kurdi Iran yang berbasis di wilayah semi-otonom Kurdistan Irak.
Langkah ini dipandang oleh banyak analis sebagai upaya Israel untuk membuka "front internal" baru guna menguras sumber daya militer Iran dari dalam perbatasannya sendiri.
Selama satu tahun terakhir, koordinasi antara dinas intelijen Israel dan koalisi organisasi oposisi Kurdi Iran termasuk PDKI (Democratic Party of Iranian Kurdistan), Komala, dan PAK (Kurdistan Freedom Party) dilaporkan semakin intensif. Kerja sama ini bertujuan untuk memanfaatkan ketidakpuasan etnis minoritas di wilayah barat Iran guna menciptakan ketidakstabilan di pusat-pusat komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Sumber internal menyebutkan bahwa Israel tidak hanya memberikan dukungan dana, tetapi juga berbagi data intelijen satelit mengenai posisi situs rudal dan pangkalan internal Iran. "Targetnya bukan sekadar pergantian rezim, melainkan erosi kendali Teheran atas wilayah pinggirannya," ungkap seorang sumber diplomatik yang enggan disebutkan namanya.
Seiring dengan meningkatnya aktivitas milisi di darat, Angkatan Udara Israel (IAF) dilaporkan telah melakukan serangkaian serangan udara presisi terhadap infrastruktur keamanan Iran di provinsi-provinsi mayoritas Kurdi seperti Kermanshah dan Kurdistan. Serangan ini diduga kuat dirancang untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara dan pusat komunikasi IRGC, sehingga memberikan ruang gerak bagi unit-unit gerilya untuk melakukan infiltrasi lintas batas.
Presiden AS, Donald Trump, dalam pernyataan singkatnya pada Kamis lalu, memberikan sinyal positif terhadap dinamika ini. Ia menyebut potensi ofensif kelompok Kurdi sebagai langkah "luar biasa" untuk memberikan tekanan maksimal pada Teheran.
Namun, strategi ini bukannya tanpa risiko. Teheran telah merespons dengan meluncurkan gelombang serangan drone dan rudal balistik ke markas-markas oposisi di Erbil dan Sulaymaniyah, Irak utara. Pemerintah pusat Iran menuduh Israel menggunakan wilayah Irak sebagai batu loncatan untuk agresi teroris.
Di sisi lain, Pemerintah Regional Kurdistan (KRG) di Irak menghadapi dilema besar. Mereka berada di bawah tekanan hebat dari Teheran untuk mengusir kelompok-kelompok bersenjata tersebut, sementara di saat yang sama harus menjaga hubungan baik dengan sekutu Barat dan Israel.
Para ahli militer memperingatkan bahwa keterlibatan milisi Kurdi secara langsung dalam konflik Israel-Iran dapat memicu perang saudara yang berkepanjangan di wilayah tersebut. Meskipun kelompok Kurdi memiliki pengalaman tempur yang luas terutama setelah perang melawan ISIS, mereka masih kekurangan persenjataan berat untuk menghadapi kekuatan militer penuh Iran tanpa dukungan udara terus-menerus dari sekutu.
Dengan terbentuknya "Koalisi Pasukan Politik Kurdistan Iran" pada Februari lalu, faksi-faksi Kurdi tampaknya mulai menyatukan visi. Kini, mata dunia tertuju pada apakah dukungan Israel ini akan memicu pemberontakan berskala besar atau justru menjadi bumerang yang memperluas api peperangan di seluruh kawasan Timur Tengah.
