Harga Minyak Dunia Tembus USD 90 per Barel Akibat Eskalasi Konflik Iran-AS

minyak dunia

Pasar energi global kembali diguncang ketidakpastian hebat pekan ini. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam melampaui angka USD 90 per barel pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026), mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi militer yang kian memanas antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah.

Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi patokan internasional, ditutup pada level USD 91,89 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) milik AS melonjak hingga USD 81,01 per barel. Para analis mencatat bahwa harga minyak telah naik lebih dari 25% hanya dalam kurun waktu satu pekan sejak pecahnya konflik terbuka di kawasan Teluk.

Faktor utama di balik kepanikan pasar adalah ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran paling krusial bagi pasokan energi dunia. Iran, yang merupakan produsen minyak besar, telah memberikan peringatan keras akan memblokade jalur tersebut sebagai balasan atas operasi militer AS dan sekutunya.

Data satelit menunjukkan ratusan kapal tanker kini tertahan di sekitar Teluk Persia, tidak berani melintas karena risiko serangan dan tingginya biaya asuransi pelayaran. Sekitar 20% dari total konsumsi minyak dunia melewati selat ini setiap harinya. Jika blokade berlanjut, para ekonom memperkirakan harga minyak bisa meroket hingga USD 150 per barel.

Kenaikan harga minyak mentah ini mulai berdampak pada harga bahan bakar di tingkat konsumen. Di Amerika Serikat, harga bensin naik rata-rata 10 sen per galon setiap hari. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump dalam pernyataan resminya menyatakan bahwa prioritas saat ini adalah operasi militer, meski hal tersebut menekan pasar energi.

Negara-negara importir minyak, termasuk di Asia dan Eropa, mulai merasakan dampak negatifnya:

  • Inflasi Energi: Kenaikan harga BBM memicu naiknya biaya logistik dan harga pangan secara global.

  • Tekanan Mata Uang: Mata uang di pasar negara berkembang, termasuk Rupiah, mengalami tekanan hebat terhadap Dolar AS karena membengkaknya biaya impor energi.

  • Gangguan Pasokan LNG: Selain minyak, pasokan Gas Alam Cair (LNG) dari Qatar juga terganggu, mengancam ketersediaan energi bagi industri di Eropa dan Asia Timur.

Negara-negara anggota OPEC+ telah mengadakan pertemuan darurat untuk membahas kemungkinan peningkatan produksi guna menutupi kekosongan pasokan. Namun, kapasitas produksi cadangan yang terbatas membuat pasar skeptis bahwa langkah tersebut cukup untuk menstabilkan harga dalam waktu singkat.

"Pasar saat ini tidak hanya bereaksi terhadap hilangnya pasokan fisik, tetapi juga terhadap risiko jangka panjang. Jika infrastruktur energi di kawasan Teluk ikut rusak dalam konflik ini, proses pemulihannya akan memakan waktu berbulan-bulan," ujar seorang analis energi senior dari London.

Hingga saat ini, komunitas internasional terus menyerukan de-eskalasi demi mencegah krisis energi yang lebih dalam yang dapat menjerumuskan ekonomi dunia ke dalam jurang resesi.